Kamis, 27 November 2014
Memancing Investor Properti Membangun di Tepi Sungai Musi
Penulis : Robert Adhi Kusumaputra | Rabu, 23 Februari 2011 | 08:01 WIB
|
Share:
Robert Adhi Ksp
Jembatan Ampera Palembang

oleh: Robert Adhi Kusumaputra

Ketika bertemu Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra pekan lalu, saya terkesan dengan program Musi Riverside Development yang sedang dikembangkan Pemerintah Kota Palembang. Membangun kawasan pedestrian sejauh 20 kilometer di sepanjang tepi Sungai Musi yang masuk wilayah Kota Palembang? Wow, ini program kota yang harus didukung penuh oleh semua kalangan.

Saat ini Pak Wali Kota sudah membangun kawasan pedestrian sepanjang 2 km di daerah ilir dan 1 km di daerah ulu. Lalu kapan dan bagaimana dengan daerah lainnya? Pak Eddy Santana mengatakan pihaknya membutuhkan anggaran yang relatif besar, termasuk APBN, untuk bisa mewujudkan cita-cita itu. Bersama DPRD setempat, Pak Eddy berharap diterbitkan peraturan daerah yang mengatur program ini, sehingga siapa pun yang menjabat Wali Kota Palembang, tetap melanjutkan program ini.

Pada malam hari di Palembang, saya sempat menikmati keindahan Jembatan Ampera yang dibaluti lampu yang berkelap-kelip. Jembatan yang membentang di atas Sungai Musi ini merupakan hasil pampasan perang Jepang dan kini tetap jadi ikon kota Palembang. Berdiri di restoran River Side yang dibangun di tepi Sungai Musi, saya menikmati kelap kelip lampu di Jembatan Ampera.

Restoran apung seluas 1.500 meter persegi ini dibangun tahun 2008 ketika program pariwisata Visit Musi Year diluncurkan. Resto ini diminati masyarakat Palembang. Bila ada tamu dari luar kota, mereka diajak menikmati malam di tepi sungai sambil menikmati hidangan. Resto itu memang pas untuk masyarakat Palembang.

Tapi sesungguhnya tepian Sungai Musi masih bisa dimaksimalkan. Saya lalu membayangkan betapa asyiknya menghabiskan malam di resto-resto di tepi sungai, seperti di Clarke Quay dan Boat Quay di tepi Sungai Singapura. Anak-anak muda menikmati hari di kafe, resto, klub gaya hidup, meneguk kopi, menyeruput jus, dan menghabiskan malam di sana. Di tepi Sungai Singapura juga berdiri gedung-gedung perkantoran, hotel, pusat gaya hidup.

Tepian sungai memang magnet bagi pebisnis di kota mana pun di dunia. Air memang acap dianggap sebagai sumber hoki dan rezeki. Tidaklah heran jika banyak investor berminat membangun pusat bisnis di tepi sungai.

Di Shanghai, China, misalnya, kita lihat banyak gedung dibangun di tepi sungai. Dan kita juga bisa berjalan kaki di kawasan pedestrian The Bund dan menikmati Sungai Huangpu. The Bund sudah dikenal sejak tahun 1920-an, dan kawasan tepi sungai ini baru saja direnovasi menjelang Shanghai Expo 2010 lalu. Banyak orang lanjut usia Shanghai bernostalgia di The Bund karena mereka ingat masa pacaran di sana.

Kini The Bund menjadi salah satu ikon wisata Kota Shanghai. Keindahan gedung-gedung tua bersejarah yang dibangun pada abad ke-20 tetap dapat dinikmati. Jutaan turis mendatangi The Bund dan menikmati tepian Sungai Huangpu, saksi bisu bagaimana Dinasti Song berada di wilayah ini sejak abad ke-11.

Palembang pun sesungguhnya menyimpan sejarah panjang. Kerajaan Sriwijaya yang terkenal hingga ke negeri China, diyakini berlokasi di Palembang. Sungai Musi dan Pulau Kemaro juga saksi bisu bagaimana Sriwijaya menjadi kerajaan yang disegani.

Pada masa kini, Palembang berkilau setelah sukses menjadi tuan rumah PON tahun 2004. Keberhasilan Kota Palembang diuji lagi pada bulan November 2011 mendatang, di mana Palembang akan menjadi tuan rumah pembukaan dan penutupan pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara atau SEA Games. Perhelatan akbar olahraga se-Asia Tenggara ini seakan mengulang lagi kejayaan Sriwijaya berabad-abad silam di mana banyak saudagar dan utusan kerajaan lain datang ke daerah ini.

Pasca-PON 2004, Palembang memang berkembang pesat, termasuk sektor properti. Wali Kota Eddy Santana Putra yang kini menjabat untuk periode kedua, aktif mengajak investor menanamkan modalnya di kota berpenduduk 1,7 juta jiwa ini. Eddy, yang juga menjabat Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia ini, berhasil mengajak pengembang terkemuka, Ciputra membangun Citra Grand City di daerah Alang-alang Lebar, sekitar 12 km dari pusat kota.

Eddy bercerita, setelah tiga kali mengundang Ciputra, akhirnya pengembang kondang itu mau masuk Palembang. Ternyata Ciputra pun terkaget-kaget dengan respon masyarakat Palembang. Bayangkan, rumah-rumah seharga Rp 2 miliar sampai Rp 4 miliar pun terjual habis! Direktur Bank Sumsel Babel Asfan Sanaf berpendapat sektor properti di daerah ini menyimpan potensi besar. Pengembang yang jeli mendapatkan lokasi terbaik, seperti Grup Ciputra, akan berhasil.

Sukses Palembang menggaet investor besar, kata dosen Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya Palembang, DR Hanafiah, terkait dengan keberhasilan Wali Kota Eddy Santana membuat investor nyaman berinvestasi dengan layanan satu pintu.

Nah, kembali ke ide Pak Eddy Santana membangun kawasan pedestrian di sepanjang tepi Sungai Musi di Kota Palembang. Program Musi Riverside Development ini sangat layak didukung dan direalisasikan. Jika ini terwujud, Palembang pasti makin berkilau. Investor properti, termasuk perhotelan dan restoran, akan berbondong-bondong datang ke Palembang.

Mungkin tak ada salahnya jika kita bermimpi, suatu hari tepian Sungai Musi bisa seperti Clarke Quay atau Boat Quay Singapura, dan kawasan pedestriannya bisa seperti The Bund Shanghai. Ya, mengapa tidak?

*) Robert Adhi Kusumaputra, editor kanal Properti.Kompas.com