Rabu, 26 November 2014
Infrastruktur di Jakarta
Enam Ruas Tol Dibangun Sebagai Jalan Layang
Penulis : Emilius Caesar Alexey | Jumat, 20 Agustus 2010 | 16:20 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor saat jam pulang kerja di ruas Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Pemprov DKI akan membangun jalan tol layang tahun 2011 sebagai salah satu solusi atas kemacetan di Ibu Kota

JAKARTA, KOMPAS.com  - Setelah tertunda beberapa tahun, pembangunan enam ruas jalan tol di Jakarta segera dimulai. Lelang pembangunan dan pengelolaan ruas jalan tol Semanan- Sunter dan Sunter-Bekasi Raya pada akhir tahun 2010, sementara pembangunan fisiknya pada awal tahun 2011.

Enam ruas jalan tol itu adalah Semanan- Sunter dan Sunter-Bekasi Raya (prioritas I), Duri Pulo-Kampung Melayu dan Kampung Melayu- Kemayoran (prioritas II), Ulujami-Tanah Abang dan Pasar Minggu-Casablanca (prioritas III).

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kamis (19/8) di Balai Kota DKI Jakarta, mengatakan, pembangunan jalan tol yang menghubungkan kawasan barat dan timur Jakarta diprioritaskan di urutan pertama. Jalan tol itu untuk mengurangi beban lalu lintas pada jalan tol dalam kota.

Pengendara dari Sumatera ke Jawa Tengah atau Jawa Timur dan arah sebaliknya tidak perlu masuk ke jalan tol dalam kota. Mereka dapat masuk ke jalan tol Semanan-Bekasi Raya.

Jalan tol itu menguntungkan pengendara karena jauh lebih lancar ketimbang jalan tol dalam kota. Di sisi lain, beban lalu lintas jalan tol dalam kota berkurang sehingga tidak ada kemacetan yang meluber ke jalan arteri di sisi jalan tol. ”Pintu masuk dan pintu keluar jalan tol itu akan dibatasi sehingga benar-benar digunakan pengendara yang akan melintasi Jakarta, bukan pengendara jarak pendek,” kata Fauzi.

Ruas jalan tol Semanan-Sunter dan Sunter-Bekasi Raya dilelang sebagai satu paket pembangunan dan pengelolaan. Kedua ruas jalan tol itu sepanjang 28,88 kilometer dan memerlukan investasi sekitar Rp 17,13 triliun.

Untuk memudahkan proses konstruksi, pembangunan kedua ruas jalan tol itu dibagi dalam beberapa seksi. Pembangunan seksi pertama awal tahun 2011 adalah Semanan-Pedongkelan sepanjang 7,5 km. Kebutuhan dana pembangunan jalan tol di seksi itu sekitar Rp 5 triliun.

Menurut Fauzi, konsorsium BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengikuti pelelangan proyek pembangunan dan pengelolaan kedua ruas jalan tol itu. Konsorsium BUMD meliputi PT Jakarta Propertindo dan Pembangunan Jaya Group.

”Konsorsium BUMD itu menggalang dana sendiri dan bukan dari Pemprov DKI. Namun, konsorsium BUMD mendapat keuntungan sebagai pemrakarsa proyek, yang biasanya mendapat penilaian lebih,” kata Fauzi.

Keempat ruas jalan tol lainnya adalah ruas Duri Pulo-Kampung Melayu dan Kampung Melayu- Kemayoran pada prioritas kedua, ruas Ulujami-Tanah Abang pada prioritas ketiga, serta ruas Pasar Minggu-Casablanca pada prioritas ketiga.

”Keenam ruas jalan tol itu dibangun sebagai jalan layang untuk meminimalkan pembebasan lahan,” kata Fauzi Bowo.

Dana membangun ruas jalan tol Duri Pulo-Kampung Melayu (11,38 km) Rp 5,96 triliun. Ruas Kampung Melayu-Kemayoran (9,65 km) perlu Rp 6,95 triliun. Ruas Ulujami-Tanah Abang (8,27 km) Rp 4,25 triliun. Ruas Pasar Minggu-Casablanca (9,56 km) Rp 5,71 triliun.

Total dana untuk membangun keenam ruas jalan tol sepanjang 67,74 km sekitar Rp 40,02 triliun. Keenam ruas jalan tol itu akan meningkatkan rasio luas jalan berbanding luas lahan Jakarta, dari 6,2 persen menjadi 6,5 persen. (Emilius Caesar Alexey)


Editor :
R Adhi KSP