Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Pengembang, Bangunlah Pusat Belanja Kreatif di Tepi Kota
R Adhi KSP | Selasa, 27 April 2010 | 17:15 WIB
|
Share:

 oleh Abun Sanda


SEJUMLAH warga Indonesia tercengang-cengang tatkala menginjakkan kaki di pusat belanja Aurora, di tepi kota Chicago, tiga pekan lalu. Areal sentra belanja termasyhur di Amerika Serikat itu lebih kurang Senayan City. Akan tetapi lapangan parkirnya berupa padang beton, luasnya lebih kurang separuh luas lapangan Tien Anmen di Beijing, RR China.

Bangunan-bangunan di Aurora sederhana, tidak spektakuler sebagaimana mal di DKI Jakarta, Singapura dan atau di Hongkong. Sentra belanja ini lebih mirip komplek pertokoan, terdiri dari sepuluh induk bangunan.

Satu induk bangunan mirip hall yang disekat-sekat, terdiri atas beberapa toko besar. Luas satu toko besar, sebutlah Hugo Boss, setara dengan dua kali luas gerai Banana Republic di Senayan City. Ada juga satu hall yang sepenuhnya diperuntukkan untuk food court, yang bukan main ramainya.

Yang fantastis adalah lapangan parkir yang lapang itu dipenuhi ribuan mobil dari merek-merek bagus dan mulus. Belasan motor gede (moge) juga terparkir gagah di sana. Bisa dibayangkan berapa banyak warga Amerika dan dunia datang ke sentra belanja ini. Suhu di kawasan Aurora ketika itu antara tujuh sampai delapan derajat celcius.

Apa daya tarik Aurora sehingga publik bersedia menempuh perjalanan belasan kilometer dari pusat kota Chicago? Tidak lain pada harga komoditas yang luar biasa miring. “Edannya”, dengan harga super miring itu, mutunya tetap kelas satu.

Satu arloji Movado terbaru, yang dijual di pusat kota Rp 15 juta, di sini bisa dibeli dengan harga “hanya” Rp 5,1 juta. Tas model terbaru Coach yang biasanya dilepas dengan harga belasan juta, di sini hanya dua sampai lima juta rupiah. Kemeja kualitas nomor satu dari merek-merek kelas satu dunia yang biasa dijual dengan harga tiga juta rupiah sampai sebelas juta rupiah, di sini bisa diperoleh dengan harga maksimal dua juta rupiah.

Ini sebabnya, warga negeri Paman Sam dengan suka cita datang ke sentra belanja keren ini. Mereka berpesta dalam kehirukan nafsu belanja warga negeri adi daya itu. Hal lain yang menarik adalah para pengunjung Aurora tidak hanya dari kalangan karyawan restoran, atau petugas pembersih toilet, tetapi sampai ke CEO perusahaan-perusahaan raksasa.

Pembauran warga dari segala kelas tersebut sungguh menakjubkan sebab mencerminkan kesamaan kedudukan warga di AS. Mereka umumnya datang dengan keluarganya. Raut mereka gembira, pakaian rileks.

Tentu saja langgam bisnis di Amerika Serikat ini tidak bisa serta merta dipraktikkan secara utuh di Indonesia. Tidak ada ceritanya usahawan Indonesia memberi diskon gila-gilaan hingga 90 persen untuk barang-barang sangat berkelas.

Tidak ada kebiasaan produsen atau usahawan mal Indonesia yang memberi diskon 40 persen, lalu masih ditambah diskon ekstra 10 persen. Eh, ternyata tak sampai di situ. Total diskon sebesar 50 persen tersebut masih “ditimpa” lagi dengan diskon bersahabat sebesar 25 persen. Total diskon mencapai 75 persen. Fantastis bukan?

Siapa usahawan Indonesia yang mau melakukaannya? Ini memang pilihan yang sangat sulit. Memberi diskon sangat besar, akan membuat komoditas yang dilepas ke pasar laku keras. Siapa sih yang tidak ingin barangnya laris?

Masalahnya. memberi diskon kebesaran, akan membuat perusahaan berumur pendek. Namun kalau Amerika Serikat mampu melakukannya, mengapa Indonesia tidak? Bagaimana kalau dicari klunya, agar barang bagus bisa dijangkau dengan harga sangat murah. Ini semata masukan dan bahan pemikiran yang menarik.

Aspek lain yang perlu diperhatikan ialah para pengembang sebaiknya melihat aspek ini sebagai peluang baru berkreasi, panggung baru untuk berkarya lebih keren. Para pengembang nasional bisa membangun sentra belanja mirip Aurora di Chicago, atau semacam Potomac Mills di tepi kota Washington DC yang populer.

Para pengembang yang biasa membangun mal mungkin akan memperoleh pasar baru yang menarik. Pengembang tinggal mencari usahawan yang bersedia berbisnis di sentra belanja barang-barang berkelas itu.

Apabila pengembang dapat melakukannya, pengembang dapat membuat tepian kota Jakarta menjadi jauh lebih kinclong, atraktif dan memberi masyarakat ruang lebih luas untuk memperoleh komoditas berkelas yang lebih murah. Pengembang berjasa mengurangi kemacetan dan polusi udara sedikit berkurang. Ibu Kota pun akan memiliki daya tarik baru bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Hongkong, Kuala Lumpur, Singapura, dan Bangkok belum bisa melakukannya. Siapa tahu Jakarta dapat melakukannya, yang membuat kota ini, dan tepiannya, menjadi mendunia.

Ini sebuah bahan inspirasi yang kiranya menarik untuk direnungkan oleh para pengembang dan usahawan di segmen lainnya.

*) Abun Sanda, pemerhati masalah properti



Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin

Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?