Sabtu, 25 Oktober 2014
Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan Kembangkan Jabar Timur
Penulis : Rini Kustiasih | Senin, 12 April 2010 | 22:54 WIB
|
Share:

BANDUNG, KOMPAS.com  - Pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) yang ditargetkan dimulai pada 2011 akan mengangkat perekonomian dan perkembangan wilayah Jawa Barat bagian timur. Upaya percepatan pembangunan jalan tol itu dengan pengajuan utang ke China dinilai tidak terlalu berisiko dan mendukung pemerataan pengembangan wilayah Jabar.

Hal itu dikatakan ahli pengelolaan pembangunan dan pengembangan kebijakan dari Institut Teknologi Bandung, Andi Utomo, Minggu (11/4) di Bandung. "Utang itu bahkan perlu dilakukan bila melihat kondisi keuangan negara yang tidak mencukupi untuk menyelesaikan proyek tol itu sendiri," ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, pemerintah akan mengajukan utang 100 juta dollar AS ke China guna menggenjot penyelesaian proyek Tol Cisumdawu. Utang kemungkinan berasal dari China Exim Bank.

"Dalam jangka waktu 3,5-5 tahun utang sudah harus dilunasi. Kemungkinan akan ada juga dana pendamping dari Kementerian Pekerjaan Umum senilai 34,5 juta dollar AS," kata Dedi Supriadi, Kepala Subbidang Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar.

Kesepakatan utang akan ditandatangani jika lahan seluas 827,87 hektar yang diperlukan untuk pembangunan Jalan Tol Cisumdawu selesai dibebaskan.

Andi mengatakan, proyek tol tersebut amat diperlukan bagi Jabar bagian timur. Wilayah timur, yang antara lain meliputi Majalengka, Kuningan, dan Cirebon, selama ini cenderung lebih tertinggal dibandingkan dengan wilayah barat. Padahal, wilayah timur memiliki kekayaan alam melimpah, semisal hasil laut dan pertanian.

Ketiadaan infrastruktur dan jalur akses distribusi bagi produk-produk wilayah timur Jabar menyebabkan daerah itu tertinggal. Bahkan hal itu sempat memicu timbulnya keinginan untuk melepaskan diri dari Jabar, seperti yang baru-baru ini mengemuka di Cirebon.

Kepala Bappeda Jabar Deny Juanda menambahkan, pembangunan Tol Cisumdawu juga diupayakan sebagai jalur alternatif bagi jalur utama Cadas Pangeran di Sumedang yang kondisinya rentan longsor dan ambrol. Pembangunan Tol Cisumdawu penting bagi pengembangan jalur infrastruktur lain, yakni Bandara Internasional Kertajati. Jalan tol itu juga ditargetkan menjadi jalur akses menuju bandara. "Akan ada multiplier effect (efek berganda) dengan hidupnya jalur distribusi perdagangan di wilayah itu," ungkap Andi.

Tidak berisiko
Menurut Andi, utang dari China dinilai tidak terlalu berisiko. Sebab, pembayaran dilakukan setelah jalan tol dioperasikan. Rencananya utang dari China itu akan dibayar dengan keuntungan dari operasionalisasi jalan tol dua tahun pertama.

Pengoperasian dua tahun pertama jalan tol itu dijalankan PT Jasa Marga yang merupakan badan usaha milik negara. Utang itu terpaksa dipilih setelah berkali-kali tender gagal dilakukan guna membiayai pembangunan tol.

Investor menilai jalur timur Jabar belum terlalu menguntungkan. "Secara finansial, awalnya memang tidak menguntungkan. Tetapi, setelah tol selesai dibangun, akan ada dampak ikutan lain yang menghidupkan perekonomian warga. Hal ini yang sering kali tidak dipertimbangkan investor," ujarnya.  (Rini Kustiasih/KOMPAS Cetak Lembar Daerah Jawa Barat)


Editor :
ksp