Kamis, 2 Oktober 2014
Seroeni, Restoran Peranakan di Plaza Senayan
Penulis : Robert Adhi Ksp | Jumat, 19 Maret 2010 | 20:30 WIB
|
Share:
Robert Adhi Ksp/KOMPAS
Para pemilik Restoran Seroeni, dari kiri ke kanan: Sandjaja Prawiro, Ivan Setiawan Tan, David Setiawan, Lawrence Pan, dan Ardi Joanda

JAKARTA, KOMPAS.com - Restoran baru "Seroeni" dibuka di Plaza Senayan Jakarta, Jumat (19/3/10). Restoran yang mengkhususkan diri pada masakan peranakan (chinene malay) ini berlokasi di lantai III (sebelah Metro), sebelumnya ditempati Warung Podjok.
 
Restoran "Seroeni" di Plaza Senayan Jakarta merupakan cabang dari restoran yang sama di Semarang, Jawa Tengah. "Restoran 'Seroeni' di kawasan S2 (Sites 2), di depan Grand Candi Hotel, digemari masyarakat Semarang. Kami membuka restoran dengan cita rasa yang sama di Jakarta," kata Ivan Setiawan Tan, Presiden Direktur PT S2 Indonesia, Jumat (19/3/10).

Ivan Setiawan bekerja sama dua pengusaha lainnya, Ardi Joanda dan Sandjaja, membuka restoran ini. Sebelumnya Ivan bekerja sama dengan Ardi Joanda, membuka Charmy Ice, waralaba dari Taiwan, di Semarang. "Gara-gara Charmy, saya jatuh cinta pada food and beverage," kata Ivan yang pernah membuka usaha finance dan pendidikan. "Tapi yang cocok ternyata bidang food and beverage. Bidang ini yang membutuhkan banyak energi. Karena food and beverage merupakan people bussiness. Darikoki yang memasak sampai mereka yang bertugas melayani tamu, semua terkait dengan manusia. Jadi aset utama adalah orang.Ini betul-betul big challenge karena yang paling berat adalah mengurus orang," ungkap Ivan.

Di Semarang, Ivan membangun kawasan gata hidup S2 yang terdiri dari beberapa restoran, mulai dari Fleur (restoran Italia), Geisha (restoran Jepang) sampai Seroeni (restoran peranakan). "Kami percaya masakan peranakan digemari juga di Jakarta," kata Ivan.

Chef "Seroeni" adalah Bob Heong Low, orang Malaysia asal Penang. "Kami membawa koki asal Penang, Malaysia karena dia yang tahu cita rasa chinese malay yang pas. Chinese food dengan cita rasa melayu," kata Ivan.

Hidangan peranakan mengedepankan cita rasa yang lebih spicy. Misalnya Fried Gindara with Nonya Sauce, ikan gindara dengan salad asam manis. Atau Balachan Chicken, ayam goreng dengan rasa belacan, terasi yang menggigit. Juga Kam-Heong Fried Prawn, udang yang dicampurt dengan bumbu rempah-rempah melayu. "Intinya, aneka masakan di Seroeni lebih spicy," katanya.

Meja dan tempat duduk di restoran ini dibuat sederhana karena menurut Ivan, agar tamu yang datang mendapat kesan bahwa restoran ini bukan restoran mahal. "Kami juga menyediakan tempat colokan untuk laptop  di bawah meja agar orang-orang kantoran yang mau meeting, bisa melakukannya di tempat ini," paparnya. Harga makanan di restoran ini relatif terjangkau, mulai dari Rp 19.000 sampai Rp 75.000.
 

 


Editor :
ksp