Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Sejumlah Negara di Asia Ramai-ramai Dinginkan Pasar Properti
Robert Adhi Ksp | ksp | Rabu, 10 Maret 2010 | 16:51 WIB
|
Share:

KOMPAS.com -  Negara-negara di Asia berjuang untuk mendinginkan pasar real estate mereka agar dapat keluar dari krisis keuangan global, di tengah ketakutan gelombang properti gaya Amerika. Para pembuat kebijakan khawatir kegembiraan yang berlebihan dapat mendorong harga properti naik di atas nilai sebenarnya.

"Adalah lebih baik mencegah dengan mendinginkan lebih dulu pasar properti daripada nanti terkena dampak serius. Karena itu kami harus mengambil langkah serius," kata Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong. Singapura merupakan salah satu negara yang terkena dampak krisis finansial Asia pada tahun 1997/1998. Kondisi ini  menyebabkan banyak proyek properti yang terbengkalai dan bank-bank terseret masalah keuangan.

Sementara Asia memimpin pemulihan ekonomi global, para pejabat bertekad mencegah krisis lainnya. Suku bunga yang rendah, spekulasi dan permintaan yang kuat, telah mendorong harga properti di banyak kota di Asia makin tinggi. Dalam beberapa kasus, kondisi ini mencapai puncaknya pada tahun 2007.

"Risiko gelombang aset sangat tinggi pada perekonomian negara tertentu seperti China, Hongkong, dan Singapura,"jelas Yang Liang, Kepala Riset Asia Tenggara pada perusahaan konsultan properti Jones Lang LaSalle.
 
Sebuah ledakan pada gelombang itu berpotensi menggelincirkan pertumbuhan ekonomi, terutama jika bank dan investasi perumahan lainnya terlalu terbuka.

Di China, harga properti di 70 kota utama melesat naik dalam 21 bulan, dan mencapai nilai tertinggi pada bulan Januari 2010, meskipun pemerintah sudah memperketat  pinjaman, memberlakukan persyaratan bagi pembeli rumah kedua untuk menyerahkan uang muka sebesar 40 persen, dan memberlakukan suku bunga properti yang lebih
tinggi bagi pinjaman properti.
 
Di Singapura, ketika harga rumah 'memanas' sejak tahun lalu, pemerintah memberi tambahan bea bagi mereka yang menjual sebuah properti residensial dalam satu tahun setelah pembelian. Para pembeli juga kini dibatasi meminjam sampai 80 persen nilai properti, tidak lagi 90 persen.  
 
Di Hongkong, salah satu pasar properti yang paling sibuk, pihak berwenang mengkhawatirkan adanya aliran uang spekulatif sejak akhir tahun 2008. Sejak April, pajak  penjualan apartemen yang bernilai 20 juta dollar Hongkong atau lebih, akan naik dari 3,75 persen sampai 4,25 persen.

Bank Sentral Australia menaikkan suku bunga awal pekan ini untuk menghadapi kuatnya penambahan hipotek yang signifikan dalam harga real estat selama 12 bulan terakhir. Rata-rata harga rumah di Sydney naik 12,1 persen dan di Melbourne 18,5 persen pada tahun 2009.

Beberapa pihak meyakini langkah-langkah yang diambil akan berdampak baik. Namun Simon Vinson, Kepala Properti Asia pada AMP Capital Investors mengatakan dia tidak melihat pasar Asia secara keseluruhan 'overheating'.  "Ini sebenarnya hanya terjadi pada pasar residensial yang memiliki pertumbuhan harga yang kuat. Pasar komersial tetap mengambang. Kenaikan harga properti residensial hanya mendapatkan apa yang hilang saat krisis finansial global lalu," katanya.  

 Para analis juga menyebutkan, tidak seperti mitranya di Barat, bank-bank di Asia tidak terlalu memfokuskan diri pada pasar properti. "Bank-bank di Singapura, China, dan Hongkong telah mengelola risiko dengan sangat baik. Pihak otoritas keuangan masing-masing memberikan petunjuk yang ketat dalam pengoperasian perbankan," kata Chua Cho Hoon, Kepala Riset Asia Tenggara pada perusahaan konsultan properti DTZ.  (Sumber: propertywire.com)



Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin

Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?