Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
China Diprediksi Pimpin Pasar Investasi Properti Dunia Tahun 2010
Robert Adhi Ksp | ksp | Rabu, 10 Maret 2010 | 11:55 WIB
|
Share:

KOMPAS.com — China melampaui Amerika Serikat sebagai pasar investasi properti terbesar di dunia pada tahun 2009 dan kemungkinan akan tetap memimpin pasar pada tahun 2010 dengan pertumbuhan ekonomi dan ketergantungan utang yang lebih rendah. Investasi real estat di China naik dua kali lipat menjadi 156,2 miliar dollar AS tahun lalu, sedangkan investasi real estat di AS merosot 64 persen menjadi 38,3 miliar dollar AS.  

Demikian diungkapkan broker Cushman & Wakefield dari New York, AS, dalam sebuah laporannya belum lama ini. Di luar investasi residensial, Amerika Serikat berada di posisi ketiga setelah China dan Inggris Raya.

Laporan itu juga menunjukkan, delapan dari 20 besar pasar properti terbesar di dunia berlokasi di kawasan Asia Pasifik, dengan Hongkong, Taiwan, dan Selandia Baru masuk dalam daftar negara yang meraih keuntungan investasi.

"China akan melanjutkan aktivitas ini karena melihat betapa hidupnya investasi real estat, meskipun pemerintah belum lama ini mengambil langkah untuk mendinginkan pasar properti," ungkap Managing Director Cushman & Wakefield Kawasan Asia Pasifik Donald Han.  
 
Perekonomian China berkembang pada tingkat tahunan sebesar 10,7 persen pada kuartal terakhir tahun lalu, didukung kebijakan paket stimulus sebesar 586 miliar AS yang dikeluarkan PM China Wen Jiabao. Sementara pasar properti Amerika Serikat terpukul oleh besarnya utang yang belum dibayar dan keengganan sejumlah bank memberikan pinjaman untuk membersihkan neraca keuangan mereka, demikian laporan Cuhsman & Wakefield.

China mengambil langkah mengekang harga properti yang naik dengan cepat. Pemerintah China pada bulan Januari 2010 mengenakan pajak terhadap rumah-rumah yang terjual dalam lima tahun setelah pembelian, dan People's Bank of China meningkatkan proporsi deposito bank sebagai cadangan untuk mengurangi pinjaman.
 
Pengawas lembaga keuangan China telah memperingatkan risiko dalam pasar properti setelah terjadi kenaikan harga properti yang sangat cepat dan menekankan pentingnya mengendalikan laju pinjaman. Tahun lalu, bank-bank China meminjamkan hampir 1,5 triliun dollar AS untuk mendukung stimulus ekonomi besar-besaran yang dilakukan pemerintah, yang menimbulkan gelombang dalam real estat dan harga saham. Kondisi ini memicu kekhawatiran gelombang aset dalam kedua pasar tersebut.

"Ini merupakan risiko yang pasti dalam pasar real estat karena kenaikan harga properti terus berlanjut yang menyebabkan rumah tidak dapat terjangkau lagi bagi rakyat biasa. Kondisi ini berpotensi menyebabkan problem sosial dan ekonomi," kata Ding Zhongchi, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Keuangan China. "Sangat penting mengendalikan laju pinjaman, sementara pengetatan persyaratan kecukupan modal membantu mewujudkan tujuan ini," katanya.   
 
Analis pada Cushman & Wakefield juga berharap Jepang akan bangkit setelah investasi di negeri matahari terbit itu turun 48 persen menjadi 19 miliar dollar AS tahun 2009. Sejumlah properti yang mengalami tekanan dijual dengan harga lebih murah dibandingkan biaya konstruksi, sedangkan rata-rata pendapatan dari penyewaan cenderung lebih tinggi dibandingkan ongkos pembiayaan. Ini membuat pasar menarik," kata analis.

Di Eropa, sebagian besar investor lebih fokus pada pasar terbesar, paling aktif seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Investasi di daratan Eropa kemungkinan akan naik 44 persen tahun 2010 ini menjadi 152 miliar dollar AS. (Sumber: propertywire.com) 



Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin

Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?