Kamis, 2 Oktober 2014
Tren Arsitektur 2010
Rabu, 10 Februari 2010 | 22:42 WIB
|
Share:
IDEA
Rumah dengan material lokal dan daur ulang sangat mendukung kesadaran pada green living. Gaya arsitektur yang mengusung unsur ramah lingkungan menjadi isu global saat ini

oleh Yu Sing

Ada yang aneh dengan tren dalam arsitektur. Tren sebenarnya memiliki sifat sementara, singkat, sesaat, sebentar saja; sedangkan arsitektur atau bangunan akan berdiri dalam jangka waktu yang lama. Jadi, tidak tepat kalau arsitektur dikategorikan ke dalam tren.

Walaupun begitu, arsitektur memang belum lepas dari ikatan tren. Entah bagaimana mulainya arsitektur bisa bersanding dengan tren. Barangkali karena belum ada penelitian mendalam. Di sini, ada peran pengembang properti bersama media, yang melahirkan istilah tren arsitektur.

Dengan adanya tren arsitektur, maka pengembang properti lebih mudah can terarah dalam
menjual produknya. Asal ikut apa kata tren, maka propertinya pasti laku. Begitu pula dengan media arsitektur. Dengan membahas tren arsitektur, maka medianya akan laku karena orang ingin tahu, seperti apa tren arsitektur itu, terlepas apakah makna yang disampaikan tentang tren itu benar atau keliru.

Misalnya, tren arsitektur minimalis yang masih hangat terdengar. Betulkah properti yang dijual dengan sebutan minimalis itu benar-benar minimalis? Ternyata lebih banyak yang keliru, walaupun ada juga pengembang properti yang memberikan pemahaman tentang minimalis dengan benar. Apa saja dapat dengan mudah disebut minimalis agar laku, walaupun sebetulnya sama sekali tidak minimalis. Anehnya lagi, ada masanya masyarakat memang bangga can senang membeli properti yang sesuai dengan dengung tren arsitektur minimalis agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Jika tadi sudah dijelaskan bahwa tren itu sifatnya sementara, singkat, sesaat, sebentar saja, sebentar lagi ada ratusan ribu atau mungkin jutaan pemilik bangunan yang akan ketinggalan zaman. Padahal tujuan awal membelinya justru karena tidak mau ketinggalan zaman. Lalu, apakah bangunannya akan dirubuhkan saja atau dijual lagi? Wah, kalau dirubuhkan pasti tidak mungkin. Selain masih baru, ini bangunan lho, bukan pakaian yang bisa dengan mudah disumbangkan. Dijual pun barangkali kurang laku karena tide sesuai lagi dengan tren terbaru. Nah, mulai jelas, bukan, bahwa arsitektur dan tren itu sesungguhnya tidak dapat disandingkan?

Dari sana akan ada 'korban', dan yang menjadi korban bukan hanya pemilik properti, tetapi juga arsitektur itu sendiri. Ketika tidak sesuai dengan apa kata tren terbaru, seolah-olah arsitekturjenis itu sudah kurang bagus lagi. Minimalis akan --atau malah sudah dianggap jelek, usang, ketinggalan zaman. Padahal makna minimalis pun belum dipahami dengan benar oleh masyarakat. Jadi, apakah arsitektur minimalis itu ada waktunya menjadi jelek? Sebetulnya tidak. 'Jelek' itu ada, hanya dalam persepsi masyarakat yang keliru akibat menjadi korban istilah tren arsitektur.

Arsitektur minimalis sebenarnya merupakan salah satu arus besar dalam sejarah arsitektur yang sudah ada sejak awal tahun 1900-an, bukan hasil rekayasa para pengembang properti yang sifatnya sementara. Jadi, orang yang membeli bangunan yang betul-betul minimalis karena betul-betul menyukainya atau sesuai dengan karakter dan gaya hidupnya, tak usah khawatir dan tidak perlu mendengar apa kata "tren arsitektur"'.

Mulai sekarang kata "tren" dan "arsitektur" bila disatukan harus diberi tanda kutip, supaya tidak rancu dan menyesatkan. Karena setahu saya, tren dan arsitektur tidak pernah menikah, selama ini cuma dijodohkan saja, dan sebetulnya sama sekali tidak berjodoh karena berbeda kodrat.

Apa "tren arsitektur 2010" itu? Tidak terlalu penting lagi, bukan? Namun masih ada hal yang cukup penting untuk direnungkan bersama. "Tren arsitektur" sebaiknya tidak lagi dijadikan patokan. Yang jauh lebih penting adalah pencarian pemahaman yang lebih banyak dan lebih dalam tentang arsitektur sebagai langkah yang tepat bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi para arsitek. Peran media arsitektur menjadi semakin penting untuk memberikan pemahaman yang lebih banyak, lebih mendalam, dan tentunya lebih benar, tentang arsitektur yang sebetulnya memiliki cakupan sangat luas.

Dalam konteks arsitektur rumah tinggal, menerjemahkan karakteristik clan keunikan masing-masing pemilik rumah terhadap arsitektur rumahnya merupakan pilihan yang lebih tepat ketimbang sekadar mengikuti tren. Kebhinekaan karakteristik masyarakat Indonesia akan memperluas pilihan karakter arsitektur rumah tinggal. Kesempatan untuk menjadi diri sendiri melalui bentukan rumah masingmasing akan mendorong berkembangnya eksplorasi kekayaan arsitektur tanpa dibatasi oleh "tren arsitektur".

Kondisi lingkungan hidup global yang saat ini semakin rusak juga tentunya perlu disikapi. Hemat energi, ramah lingkungan, clan berkelanjutan, selayaknya menjadi panduan sejak awal merencanakan desain rumah tinggal. Semakin lama hal-hal tersebut sebaiknya tidak akan lagi menjadi istimewa untuk dibicarakan, tapi menjadi syarat mendasar yang seharusnya memang ada, seperti halnya pencahayaan dan ventilasi alami. Semakin murah aplikasinya, maka akan semakin berkelanjutan dan lebih besar dampaknya terhadap bumi ini.

Dengan biaya yang murah, akan semakin banyak orang yang mampu mengaplikasikan arsitektur berkelanjutan. Secara otomatis, hal itu mempercepat proses penyembuhan bumi yang "sedang sakit" ini. Semakin murah biaya untuk membangun, semakin banyak uang yang bisa disisihkan untuk perbaikan lingkungan lain yang lebih besar atau untuk kepentingan kemanusiaan lainnya.

Walaupun sebetulnya mampu, tidak ada salahnya untuk berhernat clan mengurangi sedikit saja kemewahan nilai rumah tinggal. Seandainya saja setiap rumah (mewah) dapat mengurangi dan menyisihkan 10 persen-25 persen dari nilai rumahnya bagi kepentingan lingkungan atau masyarakat yang kurang mampu, tentunya lingkungan hidup sehari-hari akan menjadi semakin indah clan nilainya menjadi jauh lebih besar daripada kemewahan yang didapatkan tanpa menyisihkan sebagian biayanya. Bukankah kota tempat kita hidup akan semakin indah dlan menyenangkan untuk dihidupi bila kerusakan-kerusakan lingkungan yang telah ada dapat diperbaiki sedikit demi sedikit?

Masih ada lagi harta karun terpendam yang dapat menjadi pilihan bagi kemajuan arsitektur di Indonesia. Mungkin tidak ada yang menyangkal bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya yang dikelola dengan salah, sehingga rakyatnya menjadi miskin. Ini termasuk miskinnya penghargaan masyarakat terhadap kekayaan potensi nilai lokalitas arsitektur tradisional.

Seandainya nilai-nilai dalam arsitektur tradisional Indonesia yang jumlahnya begitu banyak --yang mungkin paling banyak di dunia-- menjadi sumber inspirasi bagi arsitektur masa kini! F. Silaban, salah seorang arsitek besar pada era Soekarno, pernah bilang bahwa pada arsitektur tradisional, bukan bentuknya yang diambil, tetapi pelajari jiwanya. Barangkali memang itulah sikap yang tepat untuk mengembangkannya, yaitu dengan melakukan adaptasi, bukan duplikasi atau replikasi.

Ciri-ciri fisik, makna filosofis, adaptasi terhadap iklim, material lokal, potensi alam, dan ornamen-ornamen tradisional, merupakan contoh serangkaian makna lokalitas yang masing-masing kekayaannya dapat menjadi sumber eksplorasi. Arsitektur bukanlah soal bentuk fisik semata. Bila kita kembali menggunakan mode pakaian sebagai contoh, maka proses adaptasi terhadap batik sudah sangat berhasil. Bahan batik yang tradisional dapat diaplikasikan ke dalam berbagai karya pakaian dengan mode terbaru yang begitu indah. Pada saat ini, batik sangat dicintai oleh berbagai kalangan masyarakat. Padahal keindahan dan kekayaan batik sudah ada sejak dulu.

Walaupun tidak sama sepenuhnya dengan arsitektur, namun kira-kira seperti itulah seharusnya adaptasi nilainilai lokal terhadap arsitektur masa kini. Tidak harus terlihat tradisional secara fisik, namun mengandung maknamakna lokal yang dapat ditelusuri asal muasalnya. Eksplorasi terhadap kekayaan nilai lokalitas Indonesia ke dalam desain arsitektur masa kini, saya yakin akan dapat menghasilkan karyakarya arsitektur tingkat dunia.

Yu Sing, seorang arsitek dari Genesis (architecture, interior, lanscape). Board & Volunteer untuk Habitat for Humanity Bandung

(Sumber: Majalah IDEA No 72/VI/2010)

Sumber :
iDEA
Editor :
ksp