
BEIJING, KOMPAS.com - Banyak investor dan bankir makin khawatir dengan harga properti yang terus membumbung di kota-kota utama China. Mereka takut, gelembung harga properti ini akan meletuskan krisis berikutnya.
Begitu pula dengan Pemerintah China. Hari Minggu (10/1/10), Kabinet China mengatakan,akan memonitor arus modal untuk menghentikan spekulasi di pasar properti China. Pemerintah juga meningkatkan uang muka pembelian rumah. Setiap keluarga China yang akan membeli rumah kedua, harus menyerahkan uang muka minimal 40 persen.
Bagi investor, gelembung ini merupakan merupakan peringatan. Lantaran suku bunga yang rendah, harga properti di Shanghai dan Beijing naik dua kali lipat dalam waktu kurang dari empat tahun.
Sebagian besar pembeli China berharap bahwa harga rumah naik dari hari per hari. Alhasil, mereka terus berusaha untuk membeli aset baru, padahal itu sudah di luar kemampuannya. Seorang broker mengatakan, pembeli umumnya membuat daftar gaji palsu untuk mendapat pinjaman bank.
Beberapa ekonom dan bankir takut, fenomena di China ini akan memicu krisis seperti terjadi di Jepang pada akhir 1980-an dan Amerika Serikat pada tahun 2009. Gelembung besar pinjaman perumahan, berakhir dengan kehancuran, bank-bank gagal dan pemulihan yang lambat. (J. Ani Kristanti/Reuters/KONTAN)

Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin
Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?