Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompetisi Padat Menyulitkan Pelatnas
lou | Selasa, 22 Desember 2009 | 21:10 WIB
|
Share:

JAKARTA, Kompas.com - Prestasi tim nasional sepak bola Indonesia era kepemimpinan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid sangat memprihatinkan. Hal ini diakui oleh Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Rahim Soekasah, dan menurutnya, ini terjadi lantaran klub tempat pemain bernaung enggan melepas pemainnya berada di Pelatnas.

"Situasi ini yang membuat kami serba salah, di satu pihak BTN harus membentuk sebuah tim nasional yang andal, tapi di lain pihak pemain yang berasal dari klub sepertinya sulit dilepas oleh klub tempat pemain itu bernaung," ungkapnya di Sekretariat PSSI, Selasa (22/12/09).

Menurutnya, situasi seperti tersebut sulit untuk membentuk sebuah tim nasional yang bisa diandalkan di arena internasional lantaran Pelatnas tidak sesuai dengan program. Apalagi program ujicoba yang selama ini diprogramkan selalu batal, sehingga otomatis ujicoba internasional hampir tidak pernah ada di tengah-tengah Pelatnas, ujarnya.

Untuk masa mendatang, menurut Rahim, PSSI harus mengatur masalah Pelatnas agar program tim nasional jelas dan klub yang memiliki pemain juga harus mendukung pemainnya masuk Pelatnas. Setelah hal itu dipenuhi, baru bisa membicarakan jadwal kompetisi.

"Selama ini jadwal kompetisi sangat padat sehingga pemain yang dipanggil masuk Pelatnas tidak dalam kondisi bugar, bahkan ada yang cedera akibat ketatnya jadwal kompetisi," tuturnya.

Rahim setuju dengan program Pelatnas pembentukkan lebih dari satu Pelatnas timnas. Hanya saja, hal itu seperti sulit direaliasasikan karena jadwal kompetisi yang padat. Padahal era tahun 80-an, setiap Pelatnas PSSI membentuk dua bahkan tiga tim, tujuannya agar pemain yang nantinya masuk Timnas PSSI benar-benar yang terbaik, paparnya. Tetapi dia mengakui, dulu kompetisinya tidak padat seperti sekarang.

"Dahulu Pelatnas di tengah-tengah vakumnya kompetisi, karena era perserikatan dahulu kompetisi hanya berlangsung enam bulan, sisanya ya untuk Pelatnas, tidak seperti saat ini dimana kompetisi penuh selama satu tahun," urainya.

Mengenai materi pemain pun diakui Rahim, sangat sulit didapat oleh BTN. "Selama ini kami sulit mencari seorang ujung tombak, selain Bambang Pamungkas, hal ini dikarenakan banyak klub kita yang menggunakan seorang ujung tombak dalam kompetisi berasal dari luar Indonesia. Makanya Timnas kita sulit mencari seorang ujung tombak, yang ada ya Bambang Pamungkas lagi," selorohnya.

Sumber :
Persda Network


Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin

Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?