Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Bisnis Properti di Semarang Mulai Menggeliat Lagi
R Adhi Kusumaputra | ksp | Senin, 12 Oktober 2009 | 16:02 WIB
|
Share:

SEMARANG, KOMPAS.com  - Bisnis properti di Semarang, Ibukota Provinsi Jawa
Tengah, saat ini sudah mulai menggeliat.

"Lumayan sudah mulai bangkit. Banyak konsumen yang menutup transaksi serta banyak yang mulai ’deal’ untuk konsumen baru. BI rate sangat berpengaruh," kata Ketua Real Estat Indonesia (REI) Jateng, Sudjadi, di Semarang, Senin (12/10).

Sudjadi mengaku tidak dapat menyebutkan secara rinci berapa unit perumahan kelas menengah yang terjual sampai sekarang ini, karena dirinya tidak mendapat laporan dari para pengembang.
"Kami tidak mendapat laporan dari pengembang dan kita juga tidak diperkenankan untuk meminta ’report’ mereka, kecuali saat ada ekspo (pameran - red.)," katanya.

Ia menjelaskan, dalam satu tahun terdapat empat kali pameran rumah dan sampai saat ini sudah terselenggara tiga kali pameran. Pameran pertama dan kedua, tingkat permintaan masyarakat masih minim dan terdapat peningkatan pada pameran ketiga.

Pada saat pameran pertama dan kedua, masih sepi peminat dimungkinkan karena pengaruh penyelenggaraan pemilu. Sedangkan pameran ketiga terdapat peningkatan sekitar 20 persen penjualan, karena pada pameran ketiga, pemilu sudah selesai dan berlangsung secara aman.

"Ekspo triwulan menjadi barometer kita. Kebutuhan masyarakat dapat diukur, kalau tidak dengan ekspo kita susah untuk mencari standar barometernya. Bulan ini, tanggal 29 Oktober 2009 kami akan buka pameran di mal Ciputra," katanya.

Sudjadi menilai minimnya penjualan rumah kelas menengah di awal tahun ini juga dipengaruhi masih adanya kebijakan perbankan yang semakin berhati-hati dalam mengucurkan kredit kepada para pekerja di sektor tertentu.

Ia menjelaskan, BI Rate 8,5 persen sudah merupakan angka bagus dan seharusnya disikapi kalangan perbankan dengan menurunkan tingkat suku bunga lebih besar.

"Bank pelaksana masih dengan 13 persen hingga 14 persen (bunga, red.), sehingga ’split’nya masih tinggi dengan alasan kehati-hatian," katanya.

Strategi yang dilakukan para pengembang untuk merangsang konsumen, salah satunya dengan memberikan subsidi bunga pinjaman. Manuver tersebut diharapkan mampu menggaet para konsumen karena jika dengan mengunakan diskon, merupakan upaya wajar.

"Ada pengembang yang memberi subsidi. Pada satu tahun pertama dengan bunga rendah hanya 8 persen. Ini untuk merangsang konsumen agar mau membeli karena bunganya rendah," katanya.

Sudjadi menambahkan, Semarang masih merupakan prospek cerah bagi bisnis properti apalagi adanya dukungan pembangunan infrastruktur jalan tol Semarang-Solo dan Blok Cepu (penambangan minyak, red).

"Kami berharap, pada ekspo terakhir nanti hasilnya bagus. Rencana awal tahun 2009, penjualan rumah mencapai 2.000 unit untuk nonsubsidi dan 8.000 unit untuk subsidi," katanya.



Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin

Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?