Selasa, 2 September 2014
Zakat untuk Kegiatan Produktif
Penulis : Emilius Caesar Alexey | Selasa, 1 September 2009 | 18:13 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi besar dari zakat, infaq, dan sedekah di Jakarta harus dimanfaatkan untuk kegiatan yang produktif dan bukan hanya untuk aktivitas konsumtif. Kegiatan produktif mempunyai manfaat yang lebih besar dan diharapkan dapat mengatasi kemiskinan.

"Zakat dapat digunakan untuk membuka lapangan kerja dan memberdayakan ekonomi kaum miskin. Dengan demikian, tingkat kemiskinan di Jakarta dapat ditekan," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam acara Peduli Ramadhan yang diselenggarakan Badan Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah (BAZIS), Selasa (1/9) di Jakarta Convention Hall.

Menurut Fauzi, pada 2009, dana yang diharapkan dapat dikumpulkan BAZIS DKI Jakarta mencapai Rp 35 miliar. Dana yang dikumpulkan BAZIS menunjukkan kecenderungan naik sejak 2007, yaitu dari Rp 27 miliar, menjadi Rp 29,7 miliar pada 2008.

Wakil Ketua BAZIS DKI Jakarta Ale Abdullah mengatakan, potensi zakat, infaq, dan sedekah di Jakarta mencapai Rp 3 triliun setiap tahunnya. Namun, 18 badan pengumpul zakat resmi di Jakarta hanya dapat mengumpulkan zakat, infak, dan sedekah sebesar Rp 800 miliar pada 2008.

BAZIS hanya mampu mengumpulkan Rp 29,7 miliar karena lebih terfokus pada pengumpulan zakat dari pegawai negeri dan BUMD di tingkat provinsi DKI Jakarta. Namun, BAZIS DKI sudah mulai menggunakan sebagian dana infaq dan sedekah untuk kegiatan produktif. Sementara itu, dana zakat hanya dibagikan dan penggunaannya diserahkan kepada penerimanya.

"Kami menyalurkan Rp 600 juta untuk kegiatan produktif. Dana itu disalurkan melalui BPR Syariah dan digunakan untuk memberi kredit bagi 60 pedagang kecil di setiap kota dengan sistem bagi hasil," kata Ale.  

 

Pembagian zakat

Dalam acara itu, BAZIS membagi zakat kepada 5.000 orang yang berhak menerimanya. Para penerima itu terdiri dari siswa SD sampai mahasiswa strata tiga yang berasal dari keluarga miskin.

Zakat itu diberikan untuk membayar uang sekolah bagi pelajar sampai mahasiswa strata satu. Untuk mahasiswa strata dua dan strata tiga, zakat diberikan untuk bantuan menyusun tesis dan disertasi.

Pembayar zakat terbesar pada tahun ini adalah PT Pembangunan Jaya Ancol dengan zakat Rp 400 juta, Bank DKI dan Satuan Polisi Pamong Praja Rp 200 juta, Dinas Pekerjaan Umum Rp 153,5 juta, dan PD Pasar Jaya Rp 102 juta. Gubernur Fauzi Bowo membayar zakat Rp 25 juta dan Wakil Gubernur Prijanto Rp 15 juta.

Sementara itu, untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap badan pengumpul zakat, BAZIS meminta kantor akuntan publik mengaudit dan hasilnya dipublikasikan di media massa. Auditor juga memeriksa jumlah zakat yang diterima oleh penerima sehingga kemungkinan penyelewengan dapat diminimalkan.