
JAKARTA, KOMPAS.com - Ternyata kehadiran jalur Transjakarta tidak membawa dampak positif bagi peningkatan nilai jual properti di Jakarta. Khususnya proyek properti perumahan maupun apartemen menengah ke atas. Malahan, kehadiran Transjakarta hanya menambah kemacetan lalu lintas.
Ini disebabkan karena penghuni properti menengah atas menggunakan transportasi pribadi untuk mobilitas kerja. “Busway hanya dipakai oleh komunitas komuter,” kata pengamat properti, Ali Tranghanda, Rabu (24/6) di Jakarta.
Malahan, kehadiran Transjakarta membuat harga tanah cenderung stagnan bahkan turun. Misalnya di Jalan Raya Pondok Indah. Sebelum proyek busway, harga tanah di daerah elit itu Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per meter persegi (m2). “Saat ini harganya cuma Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per m2,” katanya.
Tapi, kenyataan pahit itu tidak terjadi di daerah Kelapa Gading dan Kuningan. Harga tanah di wilayah ini cenderung stabil. “Harganya masih sama sekitar Rp 8 juta per m2,” tandasnya.
Direktur Utama PT Artisan Wahyu, Stefanus Ridwan menganggap, busway hanyalah pelengkap akses ke suatu wilayah. “Bukannya faktor penentu kenaikan harga tanah. Sebab, busway hadir setelah pengembang ada,” tukasnya.
Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Hieramsyah Thaib pun segendang sepenarian dengan rekannya. “Harga tanah di Kuningan sudah Rp 20 juta per m2. Ini karena lokasi Kuningan yang gampang diakses dari berbagai jalur,” katanya. (KONTAN/Ali Imron)

Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin
Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?