Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Gunung Slamet
Terancam Erosi, Hutan Produksi akan Diganti Hutan Lindung
Mohamad Burhanudin | Jumat, 12 Juni 2009 | 19:24 WIB
|
Share:

PURBALINGGA, KOMPAS.com - Untuk menghindari kerusakan lahan, erosi, dan krisis air, Pemerintah Kabupaten Purbalingga akan mengganti hutan produksi di lereng Gunung Slamet bagian timur menjadi hutan lindung. Selain itu, lahan sayuran di kelerengan tajam akan di rehabilitasi dengan ditanami tanaman keras.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga, Lily Purwati, Jumat (12/6), mengungkapkan, rencana untuk memperluas hutan lindung tersebut telah dibicarakan dengan Perhutani beberapa waktu lalu. Lan gkah tersebut sebagai salah satu upaya untuk merehabilitasi lereng Gunung Slamet bagian timur yang masuk wilayah Purbalingga.

"Kalau hutan produksi bila sudah waktunya panen kayunya bakal ditebang. Berarti akan gundul lagi dan berpotensi terjadi erosi. I ni yang ingin kami hindari. Karena itu, kami akan mengupayakan hutan produksi menjadi hutang lindung, karena hutan lindung tak mungkin ditebang," papar Lily.

Hutan negara di wilayah Purbalingga utara seluas 17.000 hektar. Dari jumlah itu, 14.000 hektar di antaranya berupa hutan produksi, dan hanya sekitar 3.000 hektar hutan lindung. Sebagian besar wilayah hutan ada di lereng Gunung Slamet bagian timur. Sayangnya, kawasan hutan di lereng Gunung Slamet bagian timur banyak yang rusak. Sejumlah areal telah beralih fungsi menjadi ladang sayuran. Hutan-hutan produksi mudah gundul karena sewaktu-waktu ditebang.

Penanaman sayuran, bahkan, dilakukan di lahan dengan kelerengan sangat miring antara 30 derajat sampai 40 derajat. Hal tersebut berpotensi menimbulkan erosi. Untuk merehabilitasi lahan yang telah beralih fungsi itu, lanjut Lily, Pemkab Purbalingga mempersiapkan bibit-bibit tanaman keras seperti mahoni. Satu jenis tanaman keras lain yang akan ditanam di ladang sayuran milik petani adalah kayu polonia. Kayu tersebut mempunyai nilai keekonomisan tinggi karena dapat dimanfaatkan untuk membuat kerajinan, seperti mebel dan dan perabot rumah tangga lainnya.

"Kayu polonia ini juga cepat sekali pertumbuhannya sehingga petani dapat terdorong untuk terus membudidayakannya di lahan yang miring," imbuh dia.

Untuk kegiatan rehabilitasi, difokuskan di lahan yang menjadi area tangkapan air. Lereng Gunung Slamet bagian timur mempunyai fungsi yang sangat vital bagi ketersediaan air bagi warga di wilayah Purbalingga. Hampir semua sungai yang mengalir ke wilayah Purbalingga berhulu di kawasan ini. Selain itu, sejumlah tempat wisata pun juga banyak memanfaatkan aliran air dari Gunung Slamet.

Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan Perhutani Banyumas Timur, sebelumnya mengungkapkan, alih fungsi lahan di lereng Gunung Slamet bagian timur mengancam ketersediaan air 19 tempat wisata di Purbalingga. Tempat-tempat wisata tersebu t di antaranya berupa kolam renang, pemancingan, air terjun, dan pemandian alam.

"Karena itu, semua pihak harus terlibat, termasuk pengelola tempat wisata dalam upaya memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi. Tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua pihak. Semuanya harus bersama-sama," tandas dia.

 

 



Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin

Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?