Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Arsitek Harus Jadi Agen Pembangunan "Green Design"
Asep Candra | Kamis, 4 Juni 2009 | 16:54 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Arsitek Indonesia harus berani menjadi agen pembangunan dalam terciptanya desain arsitektur yang ramah lingkungan atau green design, ungkap desainer interior Siti Adiningsih Adiwoso.
    
"Desainer interior atau arsitek dalam negeri jangan hanya berorientasi terhadap uang, dan tidak mau tahu desain yang ramah lingkungan," katanya saat seminar "New Trend on Interior Design; Italian and Indonesian Experience", di Jakarta, Rabu (3/6) kemarin.

Ia menilai, penerapan green design dalam perkembangan zaman sesungguhnya sangat mudah diterapkan. Ia mencontohkan, dengan memperbanyak penggunaan kaca pada sebuah bangunan agar sinar matahari dapat masuk ke dalam.

"Banyak cahaya yang masuk akan mengurangi konsumsi listrik untuk lampu," kata Presiden Direktur PT Asri Desindo Intiwidya ini.

Ia mengatakan, konsep tersebut sesuai dengan tren desain interior yang saat ini berkembang di Indonesia, yakni bercahaya, transparan, mudah dipindahkan, dan berwarna-warni.

Selain itu, lanjut dia, ia juga mengharapkan para desainer Indonesia dapat menjaga identitas lokal negeri ini.

"Para desainer boleh tetap bebas dalam berekspresi, namun harus tetap lokal sebagai identitas masa depan," katanya.

Menurut dia, jangan sampai kasus klaim motif batik oleh Malaysia terjadi lagi. "Kalau ada yang mencuri karya kita, baru kita teriak. Kita harus lebih sadar untuk menjaga," tandasnya.

Sumber :
Ant


Pakai Gipsum, Ruangan Jadi Lebih Dingin

Dengan daya hantar panas yang kecil aplikasi gipsum menjadikan ruangan lebih dingin serta tahan terhadap api. Apalagi keunggulannya?