Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jalan Satrio Dijadikan "Shopping Belt" Jakarta

Kompas.com, 20 Maret 2009, 06:10 WIB
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun ini rencana pengembangan kawasan Jalan Prof Dr Satrio di Kuningan, Jakarta Selatan, menjadi shopping belt Jakarta (sabuk wisata dan belanja internasional) serupa kawasan Orchard Road di Singapura akan segera diwujudkan. Proyek besar ini sebenarnya setidaknya sudah direncanakan sejak tahun 1997.

Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi mengatakan, megaproyek yang di antaranya akan dikerjakan dua pengembang besar, Agung Podomoro dan Ciputra, itu tahun 2009 sudah akan dimulai pembangunan fisiknya. Syahrul memastikan pembangunan fisik itu tetap akan diwujudkan dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

”Tak hanya lingkungan, tetapi juga kondisi sosial dan kultur harus disiapkan sejak sekarang. Sebab, kawasan itu targetnya untuk wisata belanja domestik dan internasional. Untuk itu, dukungan infrastrukturnya juga harus maksimal,” kata Syahrul.

Salah satu infrastruktur yang krusial, menurut Syahrul, adalah membangun jalur pedestrian (pejalan kaki) yang sangat memadai. Sarana pedestrian yang akan dibangun di sepanjang Jalan Prof Dr Satrio dengan lebar sedikitnya 10 meter. Selain itu, akan dibangun juga sejumlah terowongan (underpass) sebagai sarana penyeberangan. Sarana tersebut untuk mengatasi kesemrawutan di permukaan Jalan Prof Dr Satrio selama ini oleh kepadatan penyeberang jalan.

”Kawasan bagi pedestrian akan dibangun senyaman mungkin dengan pohon-pohon peneduh sehingga orang tergerak untuk berjalan kaki di kawasan itu,” kata Syahrul.

Kamis kemarin, kesemrawutan di kawasan Satrio tampak seperti biasa. Titik kepadatan yang selalu semrawut di Jalan Prof Dr Satrio adalah di depan Mal Ambassador. Setiap hari kerja, terutama jam istirahat siang, kawasan itu macet. Penyebabnya adalah para penyeberang jalan yang hilir mudik dari dan ke mal ditambah dengan angkutan umum yang selalu berhenti sembarangan di sekitar pusat perbelanjaan tersebut.

Syahrul mengatakan, secara kultur, kawasan ini nantinya juga akan memaksa warga untuk lebih tertib. Misalnya, jika ingin menyeberang jalan, warga mau tak mau harus melalui terowongan. Angkutan umum di kawasan itu harus mengikuti tata kelola di kawasan itu.

Megaproyek itu akan terbentang dari perpotongan Jalan Sudirman-Jalan Prof Dr Satrio hingga mulut Jalan Cassablanca. Di sepanjang jalan itu akan dibangun superblok yang mengintegrasikan pusat belanja, apartemen, perkantoran, hingga hotel.

Sabuk wisata belanja koridor Satrio itu ditargetkan untuk pasar Asia-Pasifik, selain domestik.

Aspek lingkungan

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau