Minggu, 26 Oktober 2014
KEPEMILIKAN ASING
Orang Indonesia, Investor Aktif di Pasar Properti London
Penulis : Tabita Diela | Kamis, 19 September 2013 | 08:34 WIB
|
Share:
Rafael Vinoly Archtitecs
kendati tidak sebanyak Singapura dan Malaysia, orang Indonesia mulai menjadi investor aktif pembeli properti di London.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pembeli Indonesia saat ini merupakan investor aktif yang "bermain" di pasar properti London, Inggris. Kendati jumlahnya tidak sebanyak investor Singapura dan Malaysia, namun semakin bertambah.

Demikian disampaikan Senior Property Salest Consultant International Project Jones Lang LaSalle, Widya Lestaluhu, di Jakarta, Rabu (18/9/2013). 

"Jumlah investor asing yang menggarap London semakin bertambah. Khusus Asia Tenggara, memiliki komposisi; Singapura sekitar 55 persen, Malaysia 45 persen, diikuti Thailand, Filipina, Brunei, termasuk Indonesia," ujarnya. 
 
Persentase orang Indonesia yang membeli properti premium di Inggris memang tidak banyak, namun ada. Mereka mendapat pinjaman dari bank asal Singapura untuk membiayai pembelian propertinya di London.

Menurut Widya, peluang berinvestasi, khususnya pada pasar sewa (rental) di London, sangat besar. Dengan memiliki apartemen di lokasi utama, investor bisa meraup banyak keuntungan. 
 
Seperti diketahui, jutaan keluarga kelas menengah di Inggris tengah merasakan tingginya harga properti di negara tersebut. Keluarga-keluarga ini harus rela menunda impiannya membeli rumah, meski memiliki pendapatan yang cukup untuk mencicil rumah. Hal tersebut memaksa mereka hanya bisa menyewa, memilih daerah lain, atau bahkan sementara  tinggal di rumah orang tua. Tinggal di rumah orang tua membuat mereka tidak perlu mengeluarkan biaya sewa dalam jangka waktu tertentu dan mampu menabung untuk membayar uang muka.
 
Menurut Widya, rerata harga tanah per meter persegi di Inggris mencapai Rp 320 juta per meter persegi. "Mereka (keluarga muda Inggris, pencari properti pertama) biasanya mencari tempat tinggal di Zona Dua hingga Zona Lima. Kalau mereka mau tinggal di Zona Satu, biasanya mereka menyewa. Wajar bila kini pasar sewa London sangat kuat," ujarnya. Dengan kata lain, kebutuhan hunian sewa bisa menjadi peluang bagi para investor, termasuk investor Indonesia.
 
"Ini adalah kesempatan bagi orang Indonesia untuk berinvestasi di ibukota Inggris. Biasanya, sekali berinvestasi dan merasakan keuntungannya, investor akan mencari properti lagi. Setelah punya beberapa properti di London, umumnya mencoba di negara lain," imbuh Widya seraya menambahkan return of investment (ROI) yang dijanjikan mencapai empat sampai lima persen per tahun.
 
Meski tidak tampak menyenangkan bagi masyarakat kelas menengah pencari rumah pertama di London, namun pasar properti premium justru menjadi salah satu incaran investor internasional. Investor dari Timur Tengah, Rusia, China, dan negara-negara Asia, termasuk Asia Tenggara menjadi pembeli atau investor berulang di area tersebut.



Editor :
Hilda B Alexander