Kamis, 27 November 2014
SUPERBLOK
Harga Lahan di Kebon Melati Selangit!
Penulis : Hilda B Alexander | Selasa, 16 Juli 2013 | 22:01 WIB
|
Share:
www.skyscrapercity.com
Thamrin City, salah satu properti multifungsi yang berada di Kebon Melati, Jakarta Pusat.

JAKARTA, KOMPAS.com —
Kebon Melati memang hanya sebuah nama kelurahan dalam struktur wilayah Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Akan tetapi, "kasta" kelurahan ini kian melambung ketika tersiar kabar PT Intiland Development Tbk akan mengembangkan properti multifungsi seluas lebih kurang 6-10 hektar.

Kebon Melati menjadi pembicaraan karena di kawasan ini Intiland bakal menggarap apartemen, hotel, perkantoran, dan ruang ritel senilai Rp 400 miliar secara bertahap. Realisasi dari rencana strategis tersebut dilakukan pada tahun 2014.

Corporate Public Relations Intiland Development Prananda Herdiawan mengatakan, proyek terbaru ini merupakan properti mixed use dan high rise (memiliki ketinggian tertentu yang dapat dikategorikan sebagai tall building).

"Lahan yang sudah diokupasi Intiland merupakan bank tanah perseroan (land bank) yang sudah dimiliki sejak lama," ujar Prananda kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (16/7/2013).

Jelas, kabar ini memicu spekulan tanah memainkan harga setinggi mungkin. Saat ini, harga pasar yang berlaku sekitar Rp 45 juta-Rp 50 juta meter persegi. Sementara nilai jual obyek pajak (NJOP) yang dirilis secara resmi oleh Direktorat Jenderal Pajak, terendah mencapai Rp 18,9 juta dan tertinggi Rp 22,6 juta per meter persegi. Angka ini berlaku untuk ruas-ruas jalan tertentu seperti Jalan Kebon Kacang Raya, Jalan Tanjung Karang, Jalan Talang Betutu, dan Jalan Kebon Melati Raya.

Di ruas Jalan Kebon Kacang Raya sudah berdiri properti multifungsi, seperti Thamrin City (dahulu Jakarta City Center). Sementara berdekatan dengan Thamrin City terdapat megaproperti Grand Indonesia dan Plaza Indonesia serta gedung-gedung perkantoran seperti UOB Tower.

Ketersediaan lahan kosong di Jakarta untuk pengembangan properti multifungsi memang terbatas. Defisit ini yang kemudian memicu harga lahan meroket tajam.

Menurut Direktur Keuangan Plaza Indonesia Realty Lucy Suyanto, tingginya permintaan yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan mengakibatkan harga terus melambung. Hal tersebut juga berakibat pada tingginya harga properti.

"Tak heran jika saat ini harga properti di Jakarta ada yang tembus angka Rp 75 juta hingga Rp 100 juta per meter persegi. Keraton at The Plaza yang kami bangun sudah mencapai Rp 73,5 juta per meter persegi. Padahal, tahun lalu masih berada pada kisaran Rp 51 juta per meter persegi," ujar Lucy.