PENELITIAN
Waduk dan Bahaya Gas Metana
Penulis : Tabita Diela | Rabu, 22 Mei 2013 | 15:38 WIB
|
Share:
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Keramba apung milik petambak ikan di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (5/10).

KOMPAS.com - Pembangunan waduk dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar. Selain menjadi salah satu alternatif mata pencaharian, waduk juga dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air.

Namun, bak pisau bermata dua, waduk ternyata juga mampu menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi bumi. Butuh peran masyarakat dalam mengurangi risiko besarnya gas metana yang dilepaskan dari waduk tesebut.

Gas metana merupakan salah satu penyebab pemanasan global. Bahkan, gas tersebut memiliki potensi lebih besar ketimbang gas karbon dioksida (CO2). Gas metana memiliki nilai Global Warming Potensial (GWP) 21. Artinya, setiap molekul metana mampu memanaskan 21 kali lipat dari molekul CO2.

Selain itu, berbeda dengan gas CO2, gas metana tidak dapat diserap oleh klorofil tumbuhan. Gas metana dapat berasal dari sumber-sumber alamiah, yaitu emisi geologis, danau, tumbuh-tumbuhan. Gas ini juga dapat berasal dari kegiatan manusia, seperti penambangan, pemakaian bahan bakar, kegiatan peternakan, dan pembuangan sampah.

Namun, yang menjadi sorotan dan hingga kini masih menjadi kontroversi adalah emisi gas metana dalam jumlah besar juga dapat berasal dari waduk dan bendungan. Potensi waduk dan bendungan sebagai penghasil gas metana sangat dipengaruhi oleh kondisi lahan waduk sebelum dialiri, kondisi kualitas air waduk, dan kondisi waduk itu sendiri.

Hal tersebut terungkap dari makalah yang dipresentasikan pada Kolokium Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum di Bandung, Rabu (15/5/2013) pekan lalu, berjudul "Emisi Gas Metana dari Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur". Dari presentasi ini terlihat, bahwa tidak semua orang mengetahui bahwa waduk dan bendungan juga mampu menghasilkan gas metana.

Hasil penelitian yang dilakukan Peneliti Teknologi Lingkungan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Yayu Sofia, Tontowi, S. Simon Brahmana, dan Sukmawati itu menyebutkan, emisi gas metana per satuan luas di Waduk Saguling memiliki nilai rata-rata paling besar, disusul Cirata, dan kemudian Jatiluhur. Hal ini disebabkan karena kualitas air Waduk Saguling paling tercemar.

Selain itu, Waduk Saguling juga mengandung bahan organik paling besar dan paling subur. Akibatnya, tumbuhan eceng gondok tampak mampu tumbuh dengan subur di waduk tersebut. Jika dibandingkan dengan nilai rata-rata waduk di Brazil, Panama, dan Guyana, emisi gas metana di Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur ternyata lebih tinggi.

Namun, jika dibandingkan dengan emisi dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, rawa, dan sawah di Indonesia, emisi gas metana di ketiga waduk di Jawa Barat ini lebih kecil. Besar atau kecil jumlah emisi gas metana yang dihasilkan tentunya pelu diantisipasi.

Upaya mengurangi emisi metana dari waduk dapat dilakukan dengan cara pembersihan dari tanaman dan tumbuhan liar untuk mengurangi proses pembusukan pada waktu tergenang, membersihkan tumbuhan di pinggir waduk, serta menjaga kualitas air yag masuk dalam waduk. Masyarakat bisa menghindari bahan pencemar seperti limbah domestik, industri, pertanian, dan perikanan dari air waduk.


Editor :
Latief