Kamis, 2 Oktober 2014
UANG MUKA KPR
Sejumlah Bank Tetap Optimistis
Penulis : M.Latief | Jumat, 30 Maret 2012 | 14:58 WIB
|
Share:
shutterstock
Dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.14/10/DPNP tertanggal 15 Maret 2012 disebutkan, bahwa besaran loan to value (LTV) KPR maksimal 70%, artinya uang muka yang dibayar nasabah untuk mendapat KPR minimal 30 persen.

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski aturan kenaikan uang muka baru efektif pada Juni 2012, sejumlah bank tetap menunjukkan optimismenya, bahwa kredit konsumsi untuk perumahan tetap tumbuh pada 2012.

Sejauh ini untuk mencapai target 20% - 22% pada 2012 kami optimistis karena didukung dengan layanan, suku bunga yang bersaing dan jangka waktu yang bagus.
-- Jahja Setiaatmadja

Dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.14/10/DPNP tertanggal 15 Maret 2012 disebutkan, bahwa besaran loan to value (LTV) KPR maksimal 70%, artinya uang muka yang dibayar nasabah untuk mendapat KPR minimal 30 persen. Aturan tersebut berlaku untuk kredit konsumsi kepemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen, namun tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe bangunan lebih dari tujuh puluh meter persegi atau bukan untuk rumah murah berukuran di bawah tipe 70.

Direktur Utama Bank BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, target penyaluran kredit BCA pada 2012 tetap konservatif yaitu 20% - 22%.

"Target KPR kami adalah bagi kelas menengah ke atas karena mereka memiliki kemampuan dan daya beli, sejauh ini untuk mencapai target 20% - 22% pada 2012 kami optimistis karena didukung dengan layanan, suku bunga yang bersaing dan jangka waktu yang bagus," kata Jahja.

KPR BCA menurut Jahja memberikan bunga tetap 8 persen selama 55 bulan ditambah kemudahan bagi kreditur yang ingin membayar pinjaman lebih cepat dari batas waktu tidak harus dikenai denda.

"Konsumen yang pinjamannya jatuh tempo juga tidak langsung dikenai bunga mengambang double digit, tapi dapat meminta paket lain yang bunganya tidak sampai dua digit," jelas Jahja.

Kredit konsumsi BCA secara keseluruhan naik 37,6% pada 2011 menjadi total Rp 50,3 triliun yang didukung pertumbuhan KPR sebesar 53,5% menjadi Rp 28 triliun dan KKB sebesar 30,3% menjadi Rp 17,6 triliun.

Bank CIMB Niaga juga masih optimistis dengan target penyaluran kredit KPR dan KKB.

"Kami belum melakukan revisi untuk target pertumbuhan penyaluran kredit secara keseluruhan, yaitu 18%, termasuk di dalamnya adalah kredit konsumsi, yaitu KPR dan kredit pemilikan mobil (KPM)," kata Wakil Presiden Direktur CIMB Niaga Catherinawati Hadiman seusai Rapat Umum Pemegang Saham.

Alasannya, menurut Catherina, ialah ekspektasi pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang meningkat dan target pasar KKB dan KPR CIMB Niaga adalah masyarakat menengah ke atas sehingga memiliki kemampuan pembayaran uang muka.

Menurut dia, pertumbuhan KPR CIMB Niaga pada 2011 meningkat 15,3 persen dengan nilai Rp17,83 triliun dibanding Rp15,46 triliun pada 2010 sedangkan kredit pemilikan mobil mencapai Rp15,12 triliun, tumbuh 9 persen dari posisi 2010 yaitu Rp13,86 triliun. CIMB Niaga pada 2011 menyalurkan kredit sebesar Rp125,7 triliun dari Rp104,89 triliun pada 2010 atau naik 20 persen dengan pertumbuhan kredit segmen komersial sebesar 23 persen, korporasi sebesar 19 persen dan ritel 14 persen.

Direktur Bank OCBC NISP Rudy N Hamdani mengatakan, bahwa pihaknya belum membuat revisi target KPR 2012.

"Saat ini kami memang lebih fokus ke kredit konsumsi dengan target pertumbuhan pada 2012 mencapai Rp 9 triliun, pada tahun lalu kredit konsumsi kami hingga Rp 7 triliun," jelas Rudy.

Jumlah kredit yang diberikan OCBC NISP per 30 Desember 2011 mencapai Rp 41,2 triliun (naik 31 persen dibanding periode sebelumnya) KPR yang ditawarkan bank tersebut adalah KPR dengan bunga tetap 9,5% dengan tenor 5 tahun sedangkan untuk tenor 1-2 tahun bunganya 8% - 8,75%.

"Bagi mereka yang menjadikan rumah sebagai investasi keputusan itu mungkin akan sedikit memberikan masalah namun untuk mereka yang memang mau membeli rumah untuk ditempati tidak berdampak," tambah RUdy.

Selama ini LTV KPR OCBC NISP menurut Rudy adalah 80%, namun ia melihat bahwa 90% target konsumen adalah kelas menengah ke atas sehingga aturan itu hanya berdampak minim. Bank Tabungan Negara yang menjadi penyalur 99,8% Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah bertipe di bawah 70 meter persegi juga tetap memasang target penyaluran KPR 25%.

"Kami tidak merevisi target penyaluran KPR sebesar 25% untuk tahun ini karena mayoritas KPR yang kami salurkan adalah bagi rumah bertipe di bawah 70 meter persegi, hingga Februari 2012, komposisi KPR BTN untuk unit rumah di bawah tipe 70 meter persegi sebesar 90%," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro.

Sumber :
ANT

Editor :
Latief