Kamis, 23 Oktober 2014
FURNITUR
Rotan, Tak Pernah Ketinggalan Zaman....
Senin, 26 Maret 2012 | 15:57 WIB
|
Share:
shutterstock
Dalam hal pewarnaan, rotan tidak kehilangan karakternya meskipun dipoles warna putih, hitam, cokelat, bahkan biru. Sementara kayu, akan tampak murahan bila diberi pewarna.

KOMPAS.com - Hutan kita memeram harta karun alam amat melimpah. Hal itu kemudian memancing pembabatan hutan yang kini terasa mengiris hati.

Salah satu hasil hutan Indonesia yang nilai ekonominya selangit adalah rotan. Tanaman bahan baku furnitur ini banyak tumbuh di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Dari kelima pulau tersebut, Indonesia mampu mencukupi 70% kebutuhan rotan dunia.

Namun, sejumlah catatan media menunjukkan kondisi memprihatinkan. Negara kita hanya memasok rotan sebagai bahan baku, bukan rotan dalam bentuk furnitur siap pakai. Bahan baku tersebut kemudian diolah sendiri oleh negara pengimpor sesuai kebutuhan mereka. Hasilnya kemudian dijual kembali dengan harga lebih tinggi.

Segala zaman

Nilai rotan memang mahal. Furnitur berbahan rotan tak pernah ketinggalan zaman, meski gaungnya tak selantang beberapa tahun lalu. Akan tetapi, dengan desain lebih modern, furnitur dari rotan dapat terus mengarungi zaman.

Sifat rotan yang liat memungkinkan diolah menjadi beragam furnitur dengan tema-tema modern. Fungsinya juga beragam, mulai kursi makan, meja kopi, hingga sofa. Rotan pun tampil keren bila dipasang pada ruangan bergaya minimalis natural.

Harga furnitur dari rotan juga lebih bersahabat dibanding kayu. Apalagi, saat ini kayu menjadi material yang semakin langka.

Kayu yang dijual secara legal harganya bisa selangit. Namun, memakai kayu ilegal sama halnya dengan melakukan perbuatan amat tercela. Ketimbang kayu, rotan jauh lebih lentur sehingga mudah untuk dibuat model apapun.

Untuk menciptakan sebuah desain artistik, kayu perlu dipahat atau dibubut, yang kemudian menghasilkan limbah. Limbah kayu tak selalu bisa dimanfaatkan lagi. Sementara rotan, setiap bagiannya bisa dipakai.

Kelebihan lainnya, dalam hal pewarnaan rotan tidak kehilangan karakternya meskipun dipoles warna putih, hitam, cokelat, bahkan biru. Sementara kayu, akan tampak murahan bila diberi pewarna.

Perajin furnitur di luar negeri mengakui, rotan adalah material apik, sehingga mereka lebih menyukai rotan mentah. Untuk itu, kita sebaiknya berhati-hati agar jangan sampai industri rotan domestik kekurangan bahan baku akibat kebanyakan diekspor. (TYS)

Sumber :
Kompas Klasika

Editor :
Latief