Kamis, 23 Oktober 2014
GREEN ARCHITECHTURE
Di Tangan-tangan Kreatif, Bambu Menjadi Inspirasi
Penulis : Natalia Ririh | Senin, 20 Juni 2011 | 14:15 WIB
|
Share:
Green School
Ajakan untuk melirik potensi bambu adalah untuk mengurangi ketergantungan akan penggunaan kayu.

KOMPAS.com - Di tangan-tangan kreatif, bambu mampu menjadi salah satu alternatif pilihan material untuk hunian. Di Indonesia bambu menjadi sumber material bangunan yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di hampir semua pelosok Tanah Air.

Tercatat, dari 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenisnya ada di Indonesia. Hal ini mestinya menjadi keuntungan untuk memanfaatkan bambu sebagai material pembangun. Namun sayangnya, faktanya bahwa penggunaan material kayu masih sangat laku dan disukai oleh pasar. Ditambah lagi, masih minim sosialisasi bahwa hunian berbahan bambu itu cepat rusak dan bambu belum potensial untuk dilirik.

Arsitek Effan Adhiwira kepada Kompas.com mengatakan, sosialisasi bambu sebagai alternatif dalam hunian wajib disosialisasikan secara berkelanjutan. Ajakan untuk melirik potensi bambu ini untuk mengurangi ketergantungan akan penggunaan kayu.

"Kita tahu, bahwa material kayu sangat disukai dan sangat laku. Bahkan, di hutan Kalimantan sudah selesai dirambah dan akan berganti merambah hutan Papua. Ini karena ada permintaan pasar yang tinggi terhadap kayu," ujarnya.

Namun, di tangan-tangan kreatif, bambu terus diusahakan agar memiliki nilai serta menjadi produk berkualitas. Bambu memiliki banyak keunggulan, seperti material yang ramah lingkungan, sumber daya terbarukan yang lebih cepat dipanen antara 3 sampai 5 tahun ketimbang kayu keras dengan waktu panen hingga puluhan tahun. Belum lagi, banyak spesies bambu yang dapat dimanfaatkan untuk bangunan di Indonesia, memiliki struktur kuat, dan material yang tahan terhadap gempa bumi.

Salah satu contoh penggunaan bambu sebagai material hunian, diwujudkan oleh arsitek Budi Faisal lewat rumah bambunya yang terletak di Eco Pesantren Daarut Tauhiid, Cigugur Girang, Bandung Barat. Dalam sebuah kesempatan, Budi mengatakan bambu yang ia gunakan tak hanya sebagai unsur dekorasi semata, namun juga sebagai material utama dalam struktur bangunan.

Menurutnya, bambu yang ia pakai terbukti memiliki kekuatan seperti halnya kayu, bahkan baja. Dalam pelaksanaannya, rumah bambu yang dibuatnya memakai bambu tali atau apus, bambu temen, bambu petung, dan bambu gombong. Bambu-bambu ini ia dapatkan dekat dengan lokasi tempat tinggalnya, sehingga sangat mewujudkan unsur lokalitas dalam pembangunan hunian.

Budi juga mengaku, memakai barang-barang material bekas seperti genteng plentong, kaca-kaca bekas, tulangan besi sehingga mengurangi limbah lingkungan. Contoh lainnya adalah sekolah bambu Green School yang didirikan oleh John Hardy. Bangunan-bangunan di sekolah ini menjadikan bambu sebagai material utamanya.

Uniknya, bangunan di sini beradaptasi dengan bentukan yang sudah ada lebih dulu. Bangunan di Green School tidak memaksakan atau memotong pohon apapun.

Sukses dengan Green School, John Hardy merintis Green Village, sebuah hunian berbahan bambu untuk para tamu atau orang tua siswa. Bisa disimpulkan, bahwa baik rumah bambu Budi Faisal atau Sekolah dan Hunian bambu milik John Hardy memiliki satu catatan penting, yaitu bambu adalah bahan yang kuat dan aman sebagai material utama bangunan. Hanya, syaratnya, bambu membutuhkan proses pengawetan yang tepat sehingga kuat, anti hama, dan tahan lama.


Editor :
Latief