Jumat, 31 Oktober 2014
Lelang Properti
BNI Lelang Properti Sitaan di Surabaya
Jumat, 6 Agustus 2010 | 21:47 WIB
|
Share:
KOMPAS/BONI DWI PRAMUDYANTO
ILUSTRASI Ruko

SURABAYA, KOMPAS.com - PT BNI (Persero) Tbk. melelang properti sitaannya seiring besarnya permintaan pasar Jawa Timur terhadap produk hunian yang selalu menjadi jaminan kredit debitur.

"Upaya ini dilakukan dengan mengadakan ’BNI Property Open House’. Strategi ini sekaligus menjadi sarana memasarkan aset atau jaminan kredit yang kami kelola," kata Manajer PT Bank Nasional Indonesia (Persero) Tbk, Nurrachman Fauzie, di Gramedia Expo Surabaya, Jumat.

Ia mengaku, kegiatan lelang jaminan kredit para debitur di perseronya banyak diminati kalangan perusahaan properti maupun individu. Apalagi, acara tersebut pertama dilaksanakan di Jatim khususnya Surabaya. Kalau secara nasional, ajang lelang properti, seperti rumah, rumah toko, apartemen, sampai pabrik merupakan pelaksanaan ketiga.

"Sebelumnya, kami pernah melakukan kegiatan serupa di Jakarta dan Jawa Barat," ujarnya. Mengenai pembiayaan, jelas dia, peminat properti yang dilelang tersebut tidak perlu khawatir. Apabila mereka berminat, ia segera memprospek tanpa pindah bank.

"Sementara itu, kegiatan serupa dilaksanakan pertama kali di Jakarta pada bulan November 2009. Selanjutnya, di Jawa Barat pada bulan April 2010 dan kini di Surabaya ini," katanya.

Terkait hasil lelangnya, ia menyebutkan, ada sekitar 107 agunan yang ditawarkan kepada pasar di antaranya rumah, rumah toko, tanah, dan pabrik. Mayoritas lokasi aset yang dilelang berada di Jatim meliputi Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Mojokerto, dan Jember.

"Dari keseluruhan aset yang ada, dominasi 60 persen ditawarkan dengan harga antara Rp300 juta hingga Rp12 miliar baik rumah maupun pabrik. Selain itu, dari total lokasi di Jatim mayoritas 40 persen asetnya berlokasi di Surabaya," katanya.

Ia menambahkan, tidak keseluruhan aset ditawarkan kepada pasar properti di sana, mengingat ada beberapa di antara aset yang disita merupakan kredit macet. Namun, ada yang dilelang atas permintaan debitur yang menghindari kredit macet lantaran kesulitan ekonomi. "Sampai sekarang, umumnya debitur meminta bank melelang asetnya," katanya.

Tindakan tersebut, kata dia, banyak dikarenakan saat mengambil kredit para debitur masih bekerja dengan nilai gaji besar. Akan tetapi, lambat laun mereka mengalami kesulitan pembayaran. "Kemungkinan karena mereka tidak bekerja lagi. Apabila dari hasil lelang properti sitaan ini ada kelebihan, kami siap mengembalikannya ke debitur," katanya.

Sumber :
ANT

Editor :
R Adhi KSP