Sabtu, 29 November 2014
Properti di Bali
Cerah, Prospek Bisnis Properti di Bali
Senin, 12 Juli 2010 | 14:45 WIB
|
Share:
Robert Adhi Ksp/KOMPAS
Welcome to Bali, ucapan selamat datang di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali

DENPASAR, KOMPAS.com - Ketua Real Estate Bali, Sukadana Wenda, mengatakan, bisnis properti di Bali masih sangat menjanjikan. "Mulai dari properti menengah ke bawah hingga investasi asing," ujarnya yang dikonfirmasi di Denpasr, Bali.

Sebagian besar pengusaha asing masih mengatas namakan orang lokal untuk berinvestasi di dunia properti. Padahal tidak sedikit yang pengelolaannya langsung di tangan asing.
-- Sukadana Wenda

Menurutnya, salah satu indikator adalah dengan menurunkan suku bunga beberapa properti jenis vila, hotel, perumahan, hingga properti untuk kondotel. Dikatakan, salah satu kendala adalah belum ada payung hukum investasi terhadap kepemilikan warga asing yang menanamkan modal di dunia properti.

"Sebagian besar pengusaha asing masih mengatas namakan orang lokal untuk berinvestasi di dunia properti. Padahal tidak sedikit yang pengelolaannya langsung di tangan asing," ucapnya.

Dijelaskan, dengan pengelolaan langsung namun atas nama orang lokal Indonesia, tentu berpengaruh terhadap penghasilan negara khususnya pajak. "Jika sudah ada payung hukum yang merangkul masuknya investor asing dalam dunia properti, tentu akan menjadi tambahan devisa bagi negara. Karena banyak ketertarikan dunia properti datang dari asing," ujar Sukadana kepada wartawan.

Sukadana menambahkan, untung di kawasan negara-negara Asia Tenggara sudah semua memiliki payung hukum bisnis properti dan Indonesia yang masih dalam proses pembentukan.

Menurutnya, beberapa daerah yang ada di Idonesia layak untuk digunakan sebagai lahan percontohan. Seperti kawasan Jakarta, Bali, dan Surabaya. Keterangan tersebut terkait peluang ketiga daerah itu dilihat sangat besar untuk bisnis properti yang kedepan bisa dilakukan, pengembangan-pengambangan di daerah lain di Indonesia.

Khususnya Bali, lanjut Sukadana, aspek pariwisata adalah salah satu penilaian yang layak dipertimbangkan terkait dengan kawasan percontohan penerapan aturan bisnis properti bagi investor asing.

"Hotel dan sarana jasa pariwisata di Bali tentu membutuhkan properti untuk menunjang pelayanan pariwisata. Apalagi, Bali sering diagendakan sebagai tempat pertemuan tingkat internasional," katanya.

Di seluruh negara di Asia Tenggara, lanjutnya, sudah ada payung hukum bagi investor asing yang ingin menanamkan modal di dunia properti. Sementara, di Indonesia masih belum ada payung hukumnya dan masih dalam proses pembentukan di tingkat pusat.

Penjelasan yang sama juga diutarakan Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Kontruksi Indonesia (Aspekindo) Bali, Togar Situmorang. Menurutnya, daya serap perkembangan arsitektur di Bali sangat tinggi.

Togar Situmorang mengatakan, ada efek domino terkait citra Bali yang sudah terkenal di dunia pariwisata tingkat internasional.

Contoh kecil, Bali menjadi salah satu tempat Kongres The International Real Estate Federation (FIABCI) yang digelar 61 negara dan mengambil tempat di kawasan Nusa Dua, Bali. Anggotanya terdiri dari 120 organisasi real estate professional yang mewakili 1,5 juta profesional serta 3.300 praktisi real estate.

"Tentunya, pebisnis Internasional mulai dari tingkat pengusaha properti, pemerintah, konsultan, hingga broker kelas dunia yang ahli di bidang properti, melihat Bali sebagai peluang menjanjikan untuk bisnis properti," ucapnya.


Sumber :
ANT

Editor :
R Adhi KSP